Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Waspada Setan Berwujud Nyata
Kita bukan membincangkan setan pada realitas umumnya, melainkan kita membincangkan eksistensi ma’nawi setan itu sendiri
(^) Abdul Aziz (Koor. Redaktur)
Oleh :
AA.C*

Mendengar namanya saja, kita sudah tahu bahwa setan itu adalah makhluk tak kasat mata yang hidup di dunia, berumur bertahun-tahun lamanya, seperti yang dijelaskan oleh khoirul anbiya’ dalam kitab suci Al-Qur’an yang mulia. Kemudian terlintas di benak pikiran kita, apakah ada setan berwujud nyata, bukannya setan makhluk abstrak yang hidup berpuluhan tahun? Nah, pada kali ini, kita bukan membincangkan setan pada realitas umumnya, melainkan kita membincangkan eksistensi ma’nawi setan itu sendiri, seperti hasud, riya’, dan Syaih.

Lantas, apa hubungannya setan dengan tiga sifat tersebut. Bukannya setan adalah makhluk, sedangkan hasud, riya’, dan syaih melainkan hanya sifat? Nah, di sini kita perlu tahu, bahwa hal tersebut merupakan dari satu kesatuan, dari apa? dari tingkah lakunya yang sering membikin keributan, kekacauan, dan perpecahan, the point-nya berbau negatif yang keluar dari rambu-rambu yang di tetapkan oleh Sang Syar’i, yaitu Robbu ‘Alamin.

Oleh karenanya, orang yang memiliki sifat demikian maka bisa dikatakan setan berwujud nyata di dunia fana yang berkelana, merusak apa saja di mana-mana. Oleh sebab itu, hindarilah orang yang memiliki sifat demikian, namun bila ia sendiri yang terjangkit sifat tersebut, maka harus banyak ber-riyadhoh (melatih diri) dengan taqorrub pada tuhan dari pelbagai cara, seperti berpuasa, berzikir, berteman dengan orang baik (dari perspektif syariat), dan lain sebagainya. Oleh karena itu, teruslah berusaha membersihkan diri sendiri dari sifat tersebut, meski telah terjerumus lagi dan lagi. Ikutilah konsep para ulama, dalam hal tersebut salah satunya seperti buah karya Imam Ghozali, yakni Bidayatul Hidayah, dan rasakanlah nikmatnya ber-riyadhoh membersihkan diri dari tiga sifat di atas. Wallahu ‘A’lam.

*Redaktur  LPMI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Bagikan
Menu
Pers Ibrahimy