Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Terlanjur Nyaman
Ketika beliau melanjuti muthola’ah, Ustadz Morishima tidak sengaja melihat foto masa lalunya di beberapa selipan Kitab yang mulai kusam.
Oleh :
AA.C*

“Assalammualaikum ustadz, ini pesanan teh angetnya sudah datang” kata Fahan berdiri didepan selambu ruang pribadi ustadz, menunggu jawaban dari ustadz dengan membawa segelas teh anget, dengan tampan talam kayu. “Walaikumsalam, masuk-masuk” seru ustadz. Farhan pun memasuki ruang pribadi ustadz dengan takdim dan meletakan teh anget pesanan ustadz Morishima Muzammil di dampar lipat. Bersamaan dengan farhan meletakan teh anget, Ustadz shima membuka lamari berkuran sedang berwarna cream yang ada dipinggirnya dan mengambil beberapa bingkisan jajan. “ini ambil kamu han, tadi ustadz dapet dari rapat bulanan di aula” ucap beliau, memberikan bingkisan jajan tersebut pada Fahan. “terima kasih banyak ustadz” kata Fahan. “ia sudah, terima kasih, sudah ngantarkan tehnya” ucap beliau, memberikan isyarat kepada Fahan. “ia ustadz, assalammualaikum” kata farhan, pamit keluar. “walaikumsalam” jawab ustadz Morishima. Ustadz Morishima pun kembali lagi dengan rutinitasnya, yaitu Muthola’ah kitab Tafsir Al-bayan, karya Syech Ali As-shobuni. Ketika beliau melanjuti muthola’ah, Ustadz Morishima tidak sengaja melihat foto masa lalunya di beberapa selipan Kitab yang mulai kusam. Beliau pun mengambil foto tersebut dan tersenyum simpul, mengingat masa lalunya yang begitu gelap dan jauh dari Alim Ulama, sebelum ia berteman dengan tetangganya Natsumi Musarrofah, santriwati yang sangat tekun belajar agama sejak dini di pondok pesantren salaf.

***

Sebelum masuk pondok pesantren Bek, suara pintu mobil “thanks ya bro, udah nganteri gua” kata Morishima “calm-calm, nanti kalau clubbing lagi, sesekali ajak lah cewek biar lu ada yang nemenin, kalau gua terus khawatirnye orang yang kagak paham bilang kite homo, kan aneh” canda Keisuke didalam mobil “ye kampret lu, gampang lah masalah cewek itu belakangan, ntar datang sendiri” kata Morishima membela diri “wkwk canda-canda. Tapi ya bro, di tahun 2022 ini, kalau seseorang ga good looking dan good rekening, ya abis bor, kesenggol ama orang kayak begituan, karena lu nih, sebenarnya berpotensi banget dah kalau good looking, karena lu nih jendo (jepang indo) tinggal good rekening aja lu yang kurang, gua aja iri sama lu. saran gua sebagai teman baik hati dan tak membesarkan diri, mending lu bikin konten youtube atau tiktok, karena gua lihat tiktok lagi naik daun, banyak penggunanya” jelas keisuke Panjang lebar seraya membuka hpnya dan memperlihatkan gret (tingkatan pengguna). “nih” “wih ia cuy, wih mantep-matep. Ok lah kalau begitu gua coba nanti” “ya kan? Gua bilang apa, ok lah gua cabut dulu kerumah” kata keisuke dan menghidupkan mesin mobilnya “ok-ok, thanks banget bro” keisuke pun melajukan mobilnya dan meninggalkan Morishima di serambi rumahnya.

***

11 bulan kemudian (sebelum masuk Pondok) “wih udah mulai terasa nih, naik daun” kata keisuke di saluran panggilan telepone. “ya berkat saran lu juga nih gua udah kayak gini, thanks banget lah pokoknya” kata Morishima seraya meminum starbucks di café “wkwk, berarti banyak yang deket-deket dong? Wkwkw gimana udah di selebew?” “yaelah baru aja naik, udah nanyak coleb ama cewek, ya belum lah, tenang aja pelan tapi pasti, semua artis tiktok gua selebew semua nanti” kata Morishima meyakinkan. “gini aja lah, kalau semua artis itu, keberatan menurut gua, gimana lu coleb tuh sama tetangga lu, Natsumi Musarrofah anak pesantren, yang pernah lu ceritakan ama gua. Kalau lu ampek jebol selebew ama die, gua traktir lu makan gratis 10 hari” tantang keisuke. “bangke, die anak pesantren oi, sembarangan aja lu” “artis aja bisa, apalagi anak pesantren bor, lu udah good looking, good rekening juga ok, ya siapa tau juga dia kesemsem ama lu wkwk. Ya dah Btw lanjut nanti lagi gua mau lembur kerja lagi” “ok-ok” kata Morishima memutuskan panggilan telepon dan menyeruput minuman starbuck yang tinggal sedikit. Morishima dibuat penasaran dengan Natsumi Musarrofah, semenjak Natsumi masuk pondok pesantren, ia tidak pernah lagi bertemu dengannya, meski liburan pesantren bertepatan di bulan Ramadhan. “hmm, Natsumi Musarrofah anak pesantren, pasti tertutup banget orangnya” batin Morishima. Kemudian ia mengaktifkan hpnya dan membuka aplikasi tiktok, ngescroll video tiktok yang sedang viral, kemudian “lah ini kan Natsumi” Bersambung…

(*) Redaktur LPMI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan
Menu
Pers Ibrahimy