Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

SIKSA CINTA
cinta itu sudah ada sejak kita duduk di sekolah dasar, terkadang ada pula yang merasakannya sejak ia duduk di bangku TK/RA.
Fronasgard
Oleh :
Fronasgard*

Telah banyak kita temui, ketahui, pahami dan alami. Bahwa cinta itu sudah ada sejak kita duduk di sekolah dasar, terkadang ada pula yang merasakannya sejak ia duduk di bangku TK/RA. Masa itulah kita mengenal cinta pertama, sampai-sampai ada kata-kata, “Mengapa cinta pada pandangan pertama sulit untuk dilupa?” Pun hingga saat ini, cinta itu tetap ada pada diri setiap manusia, entah itu anak SMP, SMA, hingga pada anak kuliahan juga merasakannya. Begitu kira-kira yang pernah dialami oleh pemuda ataupun pemudi yang menjalin asmara.

Setidaknya meski kita tidak pernah mengalaminya, cukup mendengarkan curahan hati teman, kakak atau adik kita, kala mereka lagi patah hati dengan teman chatting-an atau pacar online-nya. Kalau anak remaja atau dewasa tatkala menjalin rasa degan lawan jenisnya, pasti ia mengalami senang dan riang yang seakan-akan dunia ini hanya milik mereka berdua. Dan terkadang mereka lupa kalau masih belum makan akibat dari saking khusyuknya ketika chatting-an, VN Voice Not-an, atau VC Video Call-an.

Di samping itu, setiap sesuatu pasti tidak lepas dengan yang namanya susah dan gembira. Apalagi dengan makhluk yang bernama cinta. Ketika kita memiliki kualitas cinta yang sandar, maka jangan salahkan kalau masih mengenal dengan problem atau berbagai masalah. Namun, andai kata mereka sudah naik level kepada cinta yang level up (tinggi), maka hubungan asmara mereka akan selalu mengalami Bahagia.

Namun, kebanyakan yang terjadi di kalangan pemuda adalah lebih banyak problemnya ketimbang dengan bahagianya. Tetapi, asalkan mereka mau memegang 4 prinsip “siksa cinta”, bisa dipastikan 90% hubungan asmara mereka akan berjalan dengan baik-baik saja. Pertama, mereka harus memiliki sikap Disposability (Terbuka). Kedua, mereka juga harus memiliki sikap Receptivity (Menerima). Ketiga, mereka juga memerlukan sikap Engagement (Keterlibatan atau kepedulian). Sedangkan yang terakhir adalah Fidelity (Setia/Siap menaggung segala risiko susah dan senang).

Ketika 4 sikap “siksa cinta” ini menjadi bukanlah sebuah beban bagi mereka, maka dari “siksa cinta” akan menjadi “berkah cinta”, sedangkan buahnya ialah bahagia dunia hingga akhirat. Dan apabila kita sudah terbiasa menjalani cinta, lambat laun di sekeliling kita akan terbawa oleh cinta itu sendiri. Semoga kita bisa mengenal dan bercumbu rayu dengan “Pemilik Cinta Sejati”.

*Demisioner LPMI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Bagikan
Menu
Pers Ibrahimy