Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Seni Menyembuhkan Luka Batin
Sebuah Problem Solving tentang Luka Batin. Hal ini cocok bagi anda yang sedang Bucin atau lagi patah Hati
Screenshot (29)
Oleh :
Wahda_Niyah*   Psikologi/VII

“Ikhlas dan sabar dalam menjalani kehidupan adalah salah satu bentuk iman kepada Sang Khaliq.”


Semua orang pasti ingin bahagia. Semua orang pasti ingin mendapatkan hal yang sesuai dengan ekspektasi mereka. Semua orang pasti akan melakukan apapun untuk mencapai tujuan yang mereka harapkan. Semua orang sibuk mengejar tujuan-tujuan yang sebenarnya bersifat fana dan sementara hingga mereka lupa bagaimana caranya bahagia. Bahkan beberapa orang menganggap dengan mencapai kefamousan dan ketinggian pangkat, mereka telah mencapai hal yang akan mengantarkan mereka kepada kebahagiaan yang haqiqi. Kebanyakan orang tidak sadar bahwa sebenarnya kebahagiaan yang mereka cari ada di dalam diri mereka sendiri, bahwa kebahagiaan bukanlah dicari namun dirasakan. Padahal nyatanya semakin kuat seseorang mengejar kebahagiaan di luar yang bersifat sementara itu, akan semakin banyak kemungkinan mereka untuk kecewa. Yang akhirnya perasaan kecewa inilah yang membuat seseorang mengalami luka batin. 

Dalam menjalani hidup tentu kita akan menemukan banyak gesekan-gesekan batin yang tidak mungkin kita hindari. Baik dari lingkup keluarga, teman maupun pasangan. Banyak orang yang ketika mengalami luka batin merasa sendiri dan merasa menjadi orang yang paling menyedihkan didunia. Padahal yang mengalami luka batin bukan hanya kita melainkan semua orang didunia. Luka batin yang mendalam ini kadang membawa seseorang menuju solusi dan penyembuhan yang salah kaprah. Tidak sedikit yang lari ke miras, narkotika dan pergaulan bebas lainnya. Bukannya sembuh malah menjadi sengsara. Namun ada yang masih berpikir logis dengan mencari solusi dan penyembukan melalui seminar motivasi atau kajian keagamaan. Hal ini mungkin terdengar lebih baik.

Namun perlu kita ketahui, pada dasarnya obat luka batin itu bukanlah ada pada orang lain atau tujuan kuat untuk mencapai kebahagiaan yang fana. Melainkan obat luka batin itu ada pada diri kita sendiri. Sebab yang memiliki perasaan dan yang tahu persis apa yang dikita butuhkan adalah diri kita sendiri. Karena yang memiliki hak penuh dalam menggerakkan batin kita adalah diri kita sendiri, edangkan para motivator atau orang terdekat kita hanya bertugas sebagai pendorong gerak batin kita. Jadi jalan menyembuhkan luka batin itu adalah diri kita sendiri.

Nah, untuk dapat mengobati luka batin itu, ada beberapa akar masalah yang harus kita cabut dan basmi dari diri kita. Beberapa diantaranya adalah;

1. Harapan

Hidup ini memang misteri. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dan sudah pasti semua orang memiliki harapan masing-masing untuk masa depannya. Manusiawi jika kita senang apabila yang terjadi di masa depan sesuai dengan harapan yang kita bangun. Nanun, terkadang harapan yang dibangun tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Dan jika kita bergantung pada harapan ini maka akan mudah sekali luka batin itu muncul. Bob Sadino pun pernah mengatan hal yang sama tentang harapan “Semakin banyak harapan yang kita bangun. Akan semakin banyak kita dikecewakan olehnya”. Namun, bukan berarti kita tidak boleh berharap ya. Semua orang boleh berharap yang terbaik untuk hidupnya, tapi alangkah baiknya diimbanginya dengan rasa takut akan hal buruk yang terjadi. Kita sebaiknya menyiapkan wadah kecewa untuk harapan yang tidak sesuai. Jadi apabila yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita, meskipun ada kesedihan kita tidak berlarut-larut didalamnya dan lapang dada menerimanya. Bijaklah dalam membuat harapan dan bijaklah pula menerima kenyataan.

2. Lupa pada Sang Pencipta

Seperti kacang yang lupa kulitnya manusia seringkali menduakan Sang Pencipta pemilik alam semesta seisinya. Kadang manusia lupa bahwasanya Tuhan lebih tahu yang terbaik dan yang dibutuhkan oleh hambanya. Hidup seorang manusia tidak akan tenang apabila tidak mengenal Tuhannya, sebab Tuhanlah yang membuat skenario hidup semua manusia. Tanpa Tuhan hidup kita bagaikan kapal tanpa nahkoda yang terombang-ambing di tengah lautan. Maka jika luka batin itu bertamu, ceklah kembali diri kita masing-masing, mungkin kita merasa sudah tidak butuh lagi pada Yang Menciptakan kita. Naudzubillah! 

3. Kurang bersyukur

Sejatinya manusia adalah makhluk yang sukar untuk bersyukur. Diberikan nikmat sebanyak apapun tetap akan merasa kurang. Sedangkan jika diberi kesusahan sedikit saja sudah mengeluh tiada henti. Sama seperti minum air laut, semakin diminum semakin haus. Seperti itu jugalah orang yang kurang bersyukur. Ketika perasaan tidak pernah cukup itu menempel pada diri kita maka kita tidak akan pernah puas akan apa yang telah kita miliki. Dan hal ini pun akan memicu munculnya luka batin. Kita sudah diberi nikmat masing-masing, maka cukupilah diri kita dengan apa yang kita punya. Berhentilah melihat orang diatas kita dan cobalah melihat orang yang tidak seberuntung kita. Kepuasan bukan terletak pada seberapa banyak apa yang kita dapat, namun seberapa ikhlas kita menerima apa yang kita punya.

4. Tenggelam oleh masa-lalu

Kebanyakan orang masih hidup dengan bayang-bayang masa lalunya. Mereka tidak bisa lepas dari luka batin yang menjerat di masa lalu. Bahkan semakin kita berusaha melupakan masa lalu itu, kita akan semakin tenggelam lebih dalam. Sebenarnya masalah yang terjadi sudah terlewat, hanya saja memori tentang luka itu sewaktu-waktu akan menguar lagi kepermukaan. Hal ini merupakan akar luka batin yang mendalam. Karena sampai kapanpun kita tidak bisa melupakan dan menghapus masa lalu, yang bisa kita lakukan adalah berdamai dengannya. Masa lalu bukanlah untuk dilupakan melainkan untuk dijadikan pelajaran berharga untuk kehidupan selanjutnya. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Karena baik buruknya masa lalu adalah rencana Yang Maha Kuasa. 

5. Terlalu berpikir dewasa

Orang dewasa biasanya menitik beratkan kebahagian pada sesuatu yang bersifat fana. Karena terlalu banyak berpikir mereka jarang bisa menikmati momen-momen yang sedang dijalani. Hal ini jelas berbeda dengan anak kecil yang tidak perlu memikirkan apa itu hakikat bahagia, mereka cukup merasakan dan menikmati hal yang ada. Oleh karenanya makna bahagia akan rumit dimata orang dewasa dan sederhana dimata anak-anak. Tanpa kita sadari kehidupan orang dewasa yang seperti game dapat mengantarkan kita kepada perihnya luka batin. Saling beradu satu sama lain untuk menentukan siapa yang berhak menang atas hal yang sebenarnya tidak perlu dijadikan kompetisi. Maka dari itu kehidupan orang dewasa terasa begitu gersang, karena tidak mampu menikmati apa yang  dikerjakan. Nikmati dan cintailah apa yang sedang kita kerjakan laiknya anak-anak. Jika ada yang lebih unggul dari kita terima saja, kita juga bisa menempuh jalan menuju keunggulan diri kita dengan cara kita sendiri tanpa menjatuhkan orang lain. Itu akan lebih membuat kita merasakan makna bahagia yang sesungguhnya.

6. Berlebihan mencintai dan membenci

Didunia ini ada hitam ada putih. Ada gelap ada terang. Ada buruk ada baik. Ada salah ada benar. Ada cinta da benci. Semua telah memiliki takarannya masing-masing. Andai tidak ada cinta manusia akan saling bertikai. Jika tidak ada benci manusia akan saling bergenggaman tangan. Kita tidak bisa menghapus salah satu atau meniadakan keduanya. Karena hidup tidak akan terlaksana tanpa adanya hitam putih kehidupan.

7. Menuntut kesempurnaan

Banyak orang yang memiliki sifat perfeksionis atau yang lebih dikenal dengan orang yang segala sesuatunya menuntut kesempurnaan. Hal ini juga membuat luka batin mendalam. Karena orang yang terlalu perfeksionis akan diliputi perasaan khawatir yang berlebih dalam menunggu hasil pekerjaannya. Biasanya orang yang terus-menerus menuntut kesempurnaan akan lelah dalam menjalani hidup dan lebih mudah menyerah dibandingkan orang yang bersikap biasa-biasa saja. Maka dari itu kita harus bisa menerima apa adanya diri kita. Karena pada hakikatnya nobody’s perfect in this world!

8. Dicaci minder, Dipuji bangga diri

Manusia sering tidak pernah ada benarnya. Terlalu naif, bahkan terlalu ekstrem dalam memandang hidup. Diberi hujan, mengeluh karena banjir. Diberi panas, menggerutu karena kepanasan. Yah begitulah manusia. Ketika mendapat cacian merasa minder bahkan tak pantas ada didunia. Ketika dipuji, merasa paling tinggi derajatnya dan seketika membusungkan dada. Sering-seringlah introspeksi diri ketika dicaci maka dengannya kita bisa berbenah dan memperbaiki sikap. Begitu juga ketiga dipuji, janganlah terlalu terbuai akan pujian itu karena hal ini akan membuat kita menjadi orang yang sombong. Terlalu terbuai oleh pujian pun akan membuat kita lalai dan lupa mengasah kemampuan. Maka sikapilah semua kejadian dengan tenang, biarkan hidup mengalir bagai air sungai yang bening.

9. Menolak Kegagalan

Seperti yang sudah-sudah, kita tahu bahwa analogi pahit-manis, siang-malam merupakan paket hidup yang harus kita hadapi. Begitu juga berhasil-gagal. Karena itu semua telah menjadi blue print manusia. Perlu kita ingat lagi bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalany, bahkan semakin banyak kegagalan yang kita dapat, maka stok kegagalan kita semakin berkurang. Menolak kegagalan akan membuat kita merasa tidak berguna dan tidak bisa apa-apa. Padahal masih banyak cara lain yang bisa mengantarkan kita kepada keberhasilan jika kita mau berpikir dan mencari solusi. Kegagalan bukanlah sesuatu yang perlu diratapi, melainkan sesuatu yang harus dipelajari. Dengan menganalisa apa hal yang membuat kita gagal akan membuat kita lebih paham apa yang harus kita perbaiki dalam menuju keberhasilan.

10. Terburu-buru

Apa yang dilakukan dengan terburu-buru, belum tentu hasilnya maksimal. Semua hal yang ada didunia butuh proses. Barang instan pun belum tentu kualitasnya baik. Ketika kita hidup dalam ketergesa-gesaan kita akan seperti dikejar-kejar waktu. Bahkan dalam perspektif islam dikatakan bahwa terburu-buru adalah perbuatan setan. Dalam hidup ini seharusnya kita dapat mengatur waktu sebaik-baiknya. Tapi karena selalu tergesa-gesa, membuat kita diatur-atur oleh waktu. Nikmati saja prosesnya. Proses yang lama sudah pasti menghasilkan hal yang maksimal. Karena menginginkan hal indah itu butuh waktu.

11. Tidak menghargai

Didunia ini berlaku hukum karma. Dimana apa yang kita tabur itulah yang kita tuai dan apa yang kita perbuat pada orang lain suatu saat akan kembali kepada diri kita. Baik melalui orang itu atau melalui orang lain. Ketika luka batin timbul karena kita sering tidak dihargai oleh orang lain, maka tanyalah pada diri kita sendiri, jangan-jangan dulu kita sering atau bahkan tidak pernah menghargai orang lain. Maka dari itu jika ingin dihargai, maka mulailah menghargai orang lain.

Melalui beberapa hal yang telah diulas diatas. Kita tidak perlu lagi mencari-cari kebahagiaan. Karena hidup kita adalah kebahagiaan itu sendiri, cukup pahami diri kita sendiri. Jika sudah paham akan diri kita, meskipun suatu saat ada yang membuat luka batin kita terbuka kita tidak akan terlalu sesakit sebelum mengenal akar luka itu. Kita juga tidak perlu khawatir akan kehilangan kebahagiaan. Karena saldo kebahagiaan kita cukup untuk menjadi teman perjalanan hidup. Maka, selamat berbahagia kawan!


*Pimred LPMI-UNIB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan
Menu
Pers Ibrahimy