Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Resensi Buku Sejarah Agama Jawa : Kejawen, Dari Kepercayaan Lama Hingga Sinkretisasi
Judul Resensi Buku : “Menelusuri kejawen sebagai Subkultur Agama Jawa”
  • Judul : Sejarah Agama Jawa “Menelusuri kejawen sebagai Subkultur Agama Jawa”
  • Penulis : Sri Wintala Achmad
  • Editor : Adi Putra Pati
  • Penerbit : Araska Publisher
  • Tahun Terbit : Oktober,2019
  • Tebal : 284 Halaman
  • ISBN : 978-623-7537-01-4

Oleh : Tn. K – Rabbani 

Ketika berbincang perihal agama, maka akan timbul perspektif orang-orang yang mengatakan bahwa agama adalah sebuah nilai; sebuah awal menuju akhir serta landasan sekaligus tujuan. Dapat juga agama diartikan sebagai jalan titian menuju Tuhan. Dengan agama kita diberi cara atau metode agar bagaimana kita dapat menuju Sang Pencipta. Sudah jamak diketahui bersama bahwa di Indonesia ada lima agama yang diberi legitimasi oleh pemerintah yakni, Islam, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu.

Akan tetapi, jauh sebelum kelima agama tersebut masuk ke Indonesia, di Jawa khusunya sudah ada aliran-aliran kepercayaan lama seperti Animisme, Dinamisme, Totemisme dan Politeisme yang dianut oleh masyarakat Jawa. Dalam perjalanannya, kepercayaan Monoteisme yang dibawa oleh masyarakat luar Jawa menerapkan sebuah ajaran yang meng-Esa-kan satu Tuhan; bahwa sebuah kepercayaan ini dibangun untuk mempercayai satu Tuhan sebagai sesembahan mereka. Hal ini direspon baik oleh masyarakat Jawa, yang skala bentuk pemikirnya masih tidak terbentuk secara monotorik (intelek).

Namun, aliran-aliran kepercayaan tersebut tidak diakui sebagai agama. Sebab dari seluruh aliran itu, semua lebih berupa monumen karya sastra, seni, budaya, tradisi, sikap, spritual dan filosofi orang Jawa yang sama sekali tidak mecerminkan sebagai agama. Maka, buku yang ditulis oleh Sri Wintala Achmad  dengan judul “Sejarah Agama Jawa”, ingin membenarkan apa yang dianggap sebagai aliran tempo dulu, yakni ringkasan-ringkasan sejarah yang menghantarkan pembaca untuk menulusuri beberapa ajaran kultur yang seringkali dianggap sebagai agama oleh sebagian kalangan, termasuk Jawa khususnya.

Sebuah teori menyebutkan bahwa masyarakat Jawa bukan hanya sekadar orang pribumi. Menurut para sejawaran, bukan hanya suku Lingga yang tiggal di Jawa pada tahun 3000 SM, namun pula orang-orang China Chou (Zhou) yang datang pada 230 SM. Selain China Chou, orang Yunan (China Selatan), India, Thailand (Siam), Turki, Arab dan Campa pun berdatangan di Jawa. (hal. 10)

Inilah yang membuat masyarakat Jawa terkenal dengan wataknya yang ramah dan kalem. Berkat perpaduan antara orang-orang pribumi tulen—Jawa khususnya—dengan suku-suku yang telah disebutkan di atas, masyarakat jawa bisa menerima semua hal yang berasal dari luar, baik budaya, entis, etos bahkan bila perlu agamanya.

Nah, di Jawa sendiri sudah ada agama atau aliran-aliran yang telah dianut oleh orang-orang Jawa tempo dulu seperti yang telah dijabarkan di atas, sebelum kelima agama yakni Islam, Kristen, Budha, Hindu dan Konghucu masuk. Hal itu yang hingga saat ini masih di pertahankan oleh sebagian kalangan dengan tetap menganut aliran yang telah diajarkan oleh nenek moyang secara turun menurun yang lazim di istilahkan dengan kejawen.

Kejawen sendiri sebenarnya bukan agama. Akan tetapi, lebih merupakan kultur induk yang memiliki sub-sub di dalamnya. Meskipun, setiap orang yang menganut maupun tidak akan memiliki presepsi yang berbeda. Kejawen telah mengalami sikretisasi antara kepercayaan lama dengan agama resmi akibat datangnya orang-orang luar yang menetap di Jawa.

Secara substansial, kejawen sebagai kultur induk memiliki ajaran sama yang mengarah pada tujuan akhir manusia yaitu paripurnaning dumadi (kesempurnaan hidup) dengan melalui laku pemahaman mengenai sangkan paraning dumadi (awal dan tujuan hidup) guna mencapai manunggaling kawula-Gusti (kemanunggalan kosmis). (hal. 100)

Sebagai kepercayaan yang memiliki inti ajaran menuju Tuhan Yang Maha Esa. Kejawen memiliki laku spiritual yang berbeda dengan agama resmi. Kepercayaan ini lebih menekankan kerohanian atau kebatihan sebagai laku spiritualnya. Itu sebabnya ratusan paguyuban atau komunitas kepercayaan yang tersebar di berbagai daerah khususnya di pulau Jawa ini memiliki tata cara yang berbeda dan bervariasi guna menuju yang Tunggal.

Sama dengan agama resmi yang diakui pemerintah dimana keseluruhannya memiliki rujukan sebagai pegangan. Kejawen sebagai sebuah kepercayaan juga memunyai rujukan. “Ada beberapa sumber yang dijadikan sebagai rujukan karena memuat ajaran filosofis dan etika Jawa, serta nilai edukatif. Di antara sumber-sumber ajaran kejawen yaitu karya sastra, seni tradisi, upacara tradisi, dan aneka simbol”. (hal 189)

Ajaran kejawen yang langsung berdekekatan pada subkultur orang Jawa, begitu ampuh melunakkan hati mereka. Hal ini semacam sugesti yang juga pernah dilakukan oleh ulama Nusantara, yang sering kita sebut dengan Wali Songo. Tetapi nilai dari ajaran mereka, tentu tidak sama dengan ajaran kejawen. Karena, lebih menawarkan subkultur yang sama sekali tidak tercium bahwa itu ajaran untuk menuju yang Tunggal. Sebab, Wali Songo lebih banyak menggunakan tradisi dan budaya yang ada sebagai bahan dakwah untuk mempengaruhi masyarakat pribumi yang masih awam.

Banyak sekali sebenarnya sisa-sisa tradisi yang dari dulu dilakukan oleh penganut kepercayaan kejawen yang hingga saat ini masih tetap di lakukan oleh masyarakat Indonesia, terutama yang beragama Islam. Itu adalah akibat dari pengkolaborasian antara kejawen dengan agama pendatang. “Kejawen telah banyak ditinggalkan, tetapi tradisi kejawen masih melekat di masyarakat jawa hingga kini”. (hal. cover)

Buku yang ditulis oleh Sri Wintala Achmad ini patut oleh semua kalangan yang masih menganggap kejawen sebagai agama. Sebab, pemaparan yang di jabarkan olehnya tidak serta merta di tulis dengan hasil pemikirannya sendiri. Akan tetapi, menggunakan berbagai refrensi yang memungkin pembaca mendapatkan ilmu ‘baru’ mengenai Agama Jawa. Mulai dari sejarah, perkembangan, aliran-aliran kejawen yang masih tersebar di seluruh Indonesia hingga beberapa tradisi, adat, budaya yang masih tetap digunakan dan dilakukan oleh masyarakat modern saat ini. Selamat Membaca!

(Nama pena dari Republik kopi ,26 April 2021)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan
Menu
Pers Ibrahimy