Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Pengetahuan yang Paling Mulia
"Barang siapa yang tidak mengenal Tuhannya, maka dia lebih tidak mengetahui segala sesuatu selain Dia."
Nuril Iskandar (Editor)
Oleh :
Nuril Iskandar*

Sesungguhnya kemuliaan pengetahuan (ilmu) itu sesuai dengan kemuliaan objek yang diketahui. Maka tidak disangsikan bahwa pengetahuan yang paling mulia dan paling agung adalah tentang Allah Swt. Tuhan Semesta Alam, dan yang tidak ada sesuatu apa pun yang menyerupai-Nya dalam kesempurnaan.

Pengetahuan tentang nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya adalah ilmu yang paling tinggi nilainya, jika dibandingkan dengan segala jenis pengetahuan, maka seperti perbandingan objek yang diketahui dengan objek-objek lainnya.

Ilmu tentang Allah Swt. adalah asas dari segala pengetahuan. Sebagaimana keberadaan segala sesuatu tergantung kepada keberadaan-Nya Yang Maha Menciptakan. Maka semua jenis ilmu mengikuti ilmu tentang-Nya, dan membutuhkan-Nya untuk merealisasikan keberadaan-Nya, keberadaan segala sesuatu selain Allah Swt. bergantung kepada-Nya, sebagaimana keberadaan sebuah benda yang bergantung kepada pembuatnya, dan objek kepada subjeknya.

Maka ilmu tentang zat, sifat, dan perbuatan-perbuatan Allah Swt. berimplikasi kepada pengetahuan tentang selain Allah Swt. Barang siapa yang tidak mengenal Tuhannya, maka dia lebih tidak mengetahui segala sesuatu selain Dia.

Allah Swt. berfirman, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah Swt. sehingga Allah Swt. menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri, maka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 59).

Perhatikanlah ayat ini dengan saksama, maka Anda akan temukan makna yang sangat indah, barang siapa melupakan Tuhannya, niscaya Tuhan akan membuat mereka lupa dirinya sendiri, sehingga dia tidak mengenal hakikat dirinya dan kemaslahatannya sendiri. Bahkan dia lupa apa yang menjadi kebaikan dan keberuntungannya di dunia dan akhirat.

Dengan demikian, dia pun menjadi rusak dan diabaikan seperti binatang, bahkan mungkin binatang lebih mengetahui kemaslahatannya karena mengikuti petunjuk yang diberikan pencipta kepada-Nya. Sedangkan orang tersebut keluar dari fitrah penciptanya, sehingga dia lupa akan Tuhannya dan Tuhan pun membuatnya lupa tentang dirinya sendiri. Sehingga membuat dia bahagia di dunia dan akhirat.

Kesimpulannya adalah bahwa pengetahuan (makrifat) tentang Allah Swt. adalah asas segala ilmu. Ia adalah asas ilmu hamba tentang kebahagiaan, kesempurnaan, dan kemaslahatan akhirat. Tidak adanya pengetahuan tentang Allah Swt. mengakibatkan ketidaktahuan tentang dirinya sendiri dan kemaslahatannya, serta apa yang membersihkan dan mendatangkan kebahagiaan baginya.

Oleh karena itu, pengetahuan tentang Allah Swt. merupakan pangkal kebahagiaan hamba, sedangkan ketidaktahuan tentang Allah Swt. merupakan pangkal penderitaan. Inilah hakikat ilmu yang sesungguhnya.

*Editor LPMI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Bagikan
Menu
Pers Ibrahimy