Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Menjauhi Hati yang Mati
Sebuah Esai yang Membahas Tentang Jenis Hati Seseorang
Nuril 2
Oleh :
Nuril Iskandar*

       Allah membagi hati menjadi tiga macam; dua hati terkena fitnah dan satu yang selamat. Dua hati yang terkena fitnah adalah hati yang di dalamnya ada penyakit. Sedangkan yang selamat adalah hati orang mukmin yang merendahkan dirinya kepada tuhan. Inilah hati yang merasa tenang dengan-Nya, tunduk, berserah diri serta taat kepada-Nya.

     Hati yang mati adalah hati yang tidak ada kehidupan di dalamnya. Ia tidak mengetahui tuhannya. Ia bahkan selalu menuruti keinginan nafsu dan kelezatan dirinya. Dengan begitu, ia akan dibenci dan dimurkai Allah. Ia tidak memperdulikan semuannya, asalkan mendapat bagian dari keinginannya, baik tuhan-Nya rela ataupun murka.

       Jika ia mencintai maka ia mencintai karena hawa nafsunya, jika ia membenci maka ia membenci karena hawa nafsunya, jika ia memberi maka ia memberi karena hawa nafsunya, jika ia menolak maka ia menolak karena hawa nafsunya.

  Hawa nafsu adalah pemimpinnya, syahwat adalah komandannya, kebodohan adalah sopirnya, kelalaian adalah kendaraannya. Ia terbuai dengan pikiran untuk mendapatkan tujuan-tujuan duniawi, mabuk oleh hawa nafsu dan kesenangan diri. Oleh karena itu, berbaur dengan orang yang memiliki hati semacam ini adalah penyakit, bergaul dengannya adalah racun, dan berteman dengannya adalah kehancuran.

     Ibnu Abbas RA. Berkata “ sesungguhnya ada satu kaum setelah menghidupkan orang mati yang dibunuh, lalu mengabarkan pembunuhnya. Kemudian, mereka mengingkari pembunuhan itu seraya berkata “Demi Allah, kami tidak membunuhnya”. Mereka tidak mengakui perbuatannya disebabkan hati mereka yang sudah mati. Padahal, mereka telah melihat berbagai bukti dan kebenaran.

*Redaktur LPMI


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan
Menu
Pers Ibrahimy