Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Memahami Keringanan dan Ketentuan Puasa
Sebuah Artikel Yang Membahas Tentang Puasa
Nuril 2
Oleh :
Nuril Iskandar*

Allah Swt menyeru orang-orang beriman untuk melaksanakan Saum (puasa). Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-baqarah ayat: 182. “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Saum berarti menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh dengan niat ikhlas karena Allah Swt. Dalam Saum, terkandung hikmah penyucian, pembersihan, dan penjernihan diri dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek dan akhlak tercela. Allah juga menerangkan bahwa sebagaimana Dia (Allah) telah mewajibkan Saum pada orang-orang beriman, Dia (Allah) telah mewajibkan pula Saum kepada orang-orang sebelum mereka. Maka dalam hal ini terdapat suri tauladan bagi mereka. Oleh karena itu, hendaknya mereka bersungguh-sungguh dalam menjalankan kewajiban ini dengan lebih sempurna daripada yang telah dijalankan oleh orang-orang sebelum mereka, sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Ma’idah, 5: 48. 

Saum dapat menyucikan badan mempersempit jalan syetan. Sebagaimana dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan muslim disebutkan bahwa Rasulullah Saw, bersabda, “Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang telah mempunyai kemampuan, maka hendaklah ia menikah, dan barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia melaksanakan Saum karena hal itu merupakan penekan nafsu syahwat baginya”.

Selanjutnya, Allah menjelaskan waktu Saum. Saum tidak dilakukan setiap hari agar tidak memberatkan manusia sehingga menjadi lemah dalam menunaikannya. Saum itu diwajibkan hanya pada beberapa hari tertentu. Pada permulaan Islam, saum dilakukan tiga hari pada setiap bulan, tetapi kemudian ketentuan ini di-mansukh (dihapus) dengan kewajiban saum Ramadhan.

Muaz bin Jabal Ra. Berkata, “Saum ditetapkan melalui tiga tahapan. Yaitu; pertama, ketika Rasul tiba di madinah. Beliau melaksanakan puasa tiga hari setiap bulan dari puasa Asyura. Kemudian, Allah Swt mewajibkan puasa Ramadhan dengan menurunkan ayat 183 dan 184 surah Al-baqarah.  Pada tahap ini, kewajiban puasa Ramadhan masih berbentuk pilihan; siapa yang hendak saum, maka ia melaksanakan saum, dan yang tidak berkehendak saum, maka ia mesti membayar fidyah. Tahap kedua, Allah menurunkan ayat ke-185 surah Al-baqarah. Dengan ayat ini, Allah Swt, menetapkan kewajiban saum atas orang yang muqim (tidak sedang bepergian) dan orang yang sehat (kuat menjalaninya). Sementara untuk orang yang safar dan sakit, Allah memberikan keringanan untuk tidak melaksanakan saum, (tetapi wajib menggantinya pada hari-hari berikutnya). Bagi orang tua yang tidak mampu melaksanakan saum, ditetapkan atasnya fidyah (memberikan makanan pada fakir & miskin). Dan tahap ketiga, pada mulanya diperbolehkan makan, minum, dan bercampur suami istri pada malam  hari selama belum tidur, tetapi bila sudah tidur (sampai waktu shubuh tiba), tidak diperbolehkan. Kemudian Allah Swt menurunkan ayat ke-187 surah Al-baqarah.

(Tafsir Ibnu Katsir, tafsirul Qurani Azimi, jilid 2. Fathul Qorib Kitabus Saum)

*Redaktur LPMI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan
Menu
Pers Ibrahimy