Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Ikhlas Tipu-Tipu
Sebuah opini tentang makna ikhlas
Oleh :
Abdul Aziz*

    Di dalam ajaran Agama Islam terdapat beberapa ilmu yang sangat luas pembahasannya, seperti halnya hukum bersesuci (Thoharoh), Transaksi jual-beli (Buyu’), hukum-hukum pernikahan (Munakahat) dan sebagainya. Ilmu tersebut di kemas dengan sebutan Ilmu Fiqh. Dan di ajarkan islam juga terdapat sebuah bidang ilmu yang menyeimbangi Ilmu Fiqh tersebut, yaitu Ilmu Tasawuf. Tasawuf sendiri adalah ilmu yang membahas seputar kepribadian seorang melalui sudut pandang kebathinan, salah satu di antara beberapa cabang ilmu tasawuf, adalah didalam ilmu tasawuf di ajarkan cara menghindari perbuatan zina (perbuatan tercela) dengan menghindari melalui hal yang remeh. Contoh sederhana dari perbuatan mata hingga menjalar kesemua anggota badan.

    Ilmu tasawuf sangat ketat dalam nilai-nilai kegiatan seseorang dari hal yang berat hingga hal-hal yang ringan. Sebut saja hal yang ringan adalah melakukan aktivitas yang sesuai dengan syar’i disertai sebuah hati yang tulus atau bisa diistilahkan dengan Ikhlas. Tidak banyak dari beberapa orang yang bisa menyertai aktivitas tersebut dengan Ikhlas agar mengharapkan Ridho ilahi, Kecuali orang-orang yang hatinya terjaga. Oleh karenanya tidak heran pada zaman ini, muncul dari kalangan yang tidak diketahui  asal-usulnya, menyebutnya dengan sebutan Ikhlas tipu-tipu.

    Sejenak telintas seperti tidak asing lagi di telinga kita, dengan istilah tipu-tipu. Yah istilah tipu-tipu berasal dari daerah papua yang menampilkan anak laki-laki berwarna coklat duduk di tempat seperti gazebo di dampingi oleh seseorang dipinggirnya. Anak laki-laki tersebut sempat viral sebab mengatakan selamat pagi dunia tipu-tipu. Lantas apa hubungannya dengan topik yang pertama?

    Tentu ada hubungannya dan sesuai dengan beberapa kitab klasik atau para kalangan kaum sarungan menyebutnya dengan kitab kuning. Salah satunya Seperti karangan Mujadid asal negara turky, beliau Al-ustadz Sa’id Nursi. Didalam kitab tersebut sangat rinci membahas apa arti dari kata Ikhlas. Maka sangat jelas jika tidak memenuhi standarisasi dari kitab tersebut, maka terbilang ikhlas tipu-tpu. Contoh sederhana dari beberapa study kasus yang sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari, adalah melakukan salah satu ibadah dengan cara dipaksa tidak tulus untuk mengharap ridho ilahi dan banyak lainnya.

   Wal-hasil. Meski susahnya minta ampun untuk melakukan salah satu ibadah disertai ikhlas, apa salahnya jika kita terus melatih diri untuk mendapat hakikat ikhlas itu sendiri. Karena sebagaimana umat islam ketahui, Ihtiyar tanpa doa adalah sombong dan juga sebaliknya doa tanpa Ikhtiyar adalah bohong. Wallahu ‘alam.

*Redaktur LPMI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan
Menu
Pers Ibrahimy