Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Dua Dataran Dunia
"Memang di dunia ini tidaklah ada yang sempurna, walau semua ingin menjadi sempurna"
Oleh :
Hamz*

Butiran salju mulai menyelimuti tanah lembap di antara semak-semak belukar yang menutupi jalan, angin penghujung dunia yang dingin seakan-akan menusuk tulang yang menembus pori-pori jaket tebal dari bulu beruang. Keadaan ini memang menggambarkan keadaan kehidupan di pucuk dunia. Matahari tidak terlalu fokus menerikkan cahayanya yang lembut dihinggap kulit manusia, malam dan awan menjadi pemandangan yang tiap saat dinikmati. Es bercampur kerikil kecil sudah menjadi sahabat lama, pepohonan dan salju sudah akrab saling menempel, sehingga tidak terlihat hijaunya pohon, yang tampak hanya gumpalan salju tebal yang menyelimuti. Angin dan udara tidak ada bedanya, saling menghembuskan udara dingin. Makhluk hidup di sini tidak akan kenal dengan hawa panas.

Berbalik lagi kalau kita melihat potret antara dua dunia ini, di satu sisi kita menunjukkan arah mata angin menuju Benua Afrika, gersang dan tampak berdebu, matahari seakan-akan sangat bijaksana dalam menyuplai aliran cahaya menuju bumi Afrika, di sana tidak kenal dengan jaket tebal, selimut salju ataupun malam lebih panjang daripada siang. Hujan di sana begitulah terbatas, sumber air salah satunya hanya dari isi perut bumi, tetapi makhluk hidup di sana tidaklah merasa kekurangan, semua tampak dijalani dengan suka hati.

Memang di dunia ini tidaklah ada yang sempurna, walau semua ingin menjadi sempurna, di sisi lain ada malam ada siang, ada hitam ada putih, ada panas ada dingin. Semuanya ada kelebihan dan tentunya ada kekurangan, di satu sisi dunia hawa dingin ingin menikmati hangatnya dunia dan di antaranya ingin menikmati dinginnya hawa dunia. Memang saling bertentangan. Tentunya memang itu yang harus jadi konsekuensi hidup di dataran dunia, sehingga makhluk yang bernapas di permukaannya mampu mensyukuri keadaannya.

*Demisioner LPMI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Bagikan
Menu
Pers Ibrahimy