Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Don’t “RIUH” !!!
Sejenak kita berbicara tentang definisi ‘riuh’ itu sendiri.
Rafiq1
Oleh :
R.A Al-Baliyyi*

Santuy, tenangkan hati serta pikiran tuk bermunajat kepada Allah di majelis zikir, lebih-lebih di majelis ilmu dan mari bersama-sama saling mengingatkan kepada kebaikan.” Demikian kata orang bijak. Pengasuh (K.H.R. Ahmad Azaim Ibrahimy -red) sempat mengingatkan bahkan berulang-ulang, bahwa ketika sedang berzikir dan berdoa seusai salat sebisa mungkin agar tidak “riuh” dan fokuslah terhadap munajat yang kita ungkapkan kepada sang Khaliq. Karena sebagai Pendekar Bersarung, tentunya ia yang mengutamakan akhlak/adab daripada ilmu, sebagaimana yang telah di-dawuhkan oleh Abuya Sayyid Muhammad bin Alawy, Al-Akhlaqu Qabla al-Ilmi (Akhlak/Adab lebih didahulukan sebelum Ilmu).

Baik, sesuai dengan kaidah fiqh, Al-Qadimu Yutraku ‘Ala Qidamihi “Yang lalu biarlah berlalu”. Maka mulai saat ini, sama-sama kita perbaiki agar tidak terjadi lagi teguran yang berulang ulang. Diingat dan diamalkan ya 😊. Sejenak kita berbicara tentang definisi ‘riuh’ itu sendiri. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), riuh adalah “sangat ramai (tt suara); hiruk-pikuk; gaduh”. Hhmm, rupa-rupanya begitu. Pantas saja, jikalau seseorang yang sedang fokus dalam hal apa pun termasuk dalam hal ibadah (seperti shalat, zikir & saat khutbah jum’at berlangsung), ketika ada bunyi “riuh” dapat mengganggu kefokusan orang tersebut, dengan kata lain terganggu. Maka dengan bismillah, kita tinggalkan kebiasaan tersebut.

Adapun antonim (lawan kata) dari “riuh” adalah “diam”. Teringat dengan penjelasan yang disampaikan oleh beliau (pengasuh -red), bahwa diam itu ada dua, adakalanya diam yang ibadah, dan adakalanya diam yang maksiat. Jikalau disuruh memilih, maka sudah tentu kita memilih yang pertama, “diam yang ibadah”. Sebenarnya “diam yang ibadah” itu seperti apa ? Dijelaskan bahwa “diam yang ibadah” itu adalah diamnya seseorang ketika sedang berzikir kepada Allah Swt. Nabi Muhammad saw. pun bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” Semoga bermanfaat. 😊

*Demisioner LPMI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Bagikan
Menu
Pers Ibrahimy