Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Dekatilah Tuhanmu dan Bermunajatlah
"Meski kita telah terjebur ke jurang kemaksiatan dan dosa lainnya, kita masih punya Tuhan yang Maha Mengampuni segala dosa yang kita miliki"
Oleh :
AA.C*

Diceritakan pada suatu hari ada seorang yang sering melakukan perbuatan tidak baik, sedang duduk di halte bus. Duduk dengan keadaan gelisah dan seakan-akan mencari suatu jawaban. Pria tersebut terus-menurus bersikap demikian, hingga penumpang lainnya yang sedang menunggu bus juga merasa khawatir, ketakutan, dan menjaga jarak terhadap pria itu, kecuali pria yang berpenampilan mahasiswa, tidak pindah dari tempat duduknya. Sejenak mahasiswa tersebut terbesit di dalam hatinya, mengapa para penunggu bus lainnya berpindah tempat duduk? Karena mengetahui penumpang yang tadinya duduk di sampingnya beranjak pindah ke tepian tempat duduk halte bus. Kemudian mahasiswa tersebut menoleh di sebelah samping kanannya, ternyata ada seorang yang penampilannya seperti preman pasar sedang memikirkan sesuatu. Namun saat mahasiswa itu kembali ke dunianya sendiri, bergelut dengan paparan materi dari dosen melalui Zoom, ia tidak sengaja melihat di tengkuk pria tersebut, seperti tanda lahir atau semacamnya. Sontak ia teringat kepada teman kampung yang ia sering jumpai di tempat pengajian di musholla tempat ia mendapati ilmu agama dahulu. Akhirnya, dengan rasa penasaran yang bergejolak, ia memberanikan diri memulai percakapan.

“Mas Satria ya?” Tanya mahasiswa tersebut.

“Iya kenapa? lu siapa? Ada perlu apa dengan gua?” Jawabnya dengan penuh kesal, angkuh, dan merasa risi kepada mahasiswa itu disertai dengan intonasi tinggi. “Nih orang apa gak takut deket-deket ama gue. Oh, mungkin belum tau nih orang, kalau gua preman pasar.” Batin Satria.

“Yaelah, slow aja kenapa kali Bang Satria, masak sama yang pernah belajar mengaji ke sampean udah kayak orang mau Open War. Ini gua Bang, si Syaiful anaknya si Ilman tetangga sebelah rumah sampean.” Kata si Syaiful dengan ekspresi seperti orang yang baru pertama kali bertemu dari sekian tahun tidak bertemu.

“Eh, elu Pul, kirain siapa, hehe. Sorry-sorry ya, tadi gua agak kelewatan ama elu, soalnye gua lagi mikirin soal yang belum gua temukan sebab tidur gua tadi pagi.” Jelas Bang Satria

“Sampean mimpi? Mimpi apa Bang Satria, apa jangan-jangan sampean diberi isyarat mau dijodohi ama si putri pak ustadz sebelah ye?” Kata Syaiful dengan nada menggoda dan menunjuk rumah pak ustadz yang dimaksud.

“Yee, elu mah pikirannya nikah-nikah terus, terus bini lu mau dimakanin cinta tok? Makan tuh cinta sampek kurus bini lu. Mimpi gua bukan itu, Cuy. Tapi mimpi gua tuh, gua mimpi, gua jadi pengemis duduk di pinggiran tempat cukur. Terus setiap orang yang melewati tempat gua duduk menyarankan gua masuk ke dalam tukang cukur rambut. Gua pertama gak ngerti apa yang mereka ngomong. Kemudian gua sadar ternyata mereka mengatakan rambut gua super berantakan. Kemudian ketika gua mau masuk ke dalam, gua terbangun. Tetapi serius, menurut lu mimpi gua itu apaan sih, gua mulai tadi penasaran”. Jelas Bang Satria apa yang ia alami tadi. Kemudian sebelum menjawab pertanyaan Bang Satria, Syaiful mengalihkan posisi kamera Hp-nya ke bawah dan mematikan voice Zoom, karena materi yang dijelaskan oleh dosen masih berlangsung.

“Hmm.. gimana ya, Bang, karena gua bukan tukang tafsir mimpi, jadi gua ngambil dari segi positifnya saja ya. Jadi, menurut sudut pandang gua, Bang, mimpi sampean itu menunjukan kesempatan kepada sampean untuk mengubah keadaan sampean, baik dari penampilan luar dan penampilan dalam. Dalam artian penampilan luar itu, busana yang sampean kenakan saat ini dan penampilan dalam itu sifat karakter sampean yang masih dikategorikan proses menuju kebaikan. Kesempatannya dengan apa? Yaitu dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Jadi, inti dari study kasus mimpi sampean itu, meski kita telah terjebur ke jurang kemaksiatan dan dosa lainnya, kita masih punya Tuhan yang Maha Mengampuni segala dosa yang kita miliki setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan hingga setiap tahun, baik sengaja atau tidak. Oleh karenanya, kita jangan malu untuk bermunajat kepada yang Maha Esa, meski telah berlumuran dosa, untuk menyesali perbuatan kita.” Ungkap Syaiful dengan gamblang. Spontan teman Syaiful, yaitu Satria tak kuasa menahan air matanya dan menangis seraya mengucapkan terima kasih kepada Syaiful dan meninggalkannya. Dan terjawablah keingintahuan Satria akan tabir mimpinya, dan ternyata mimpi yang ia alami sebagai isyarat agar ia kembali menuju ke jalan yang benar, yang pernah dulu tinggalkan.

*Redaktur LPMI

2 thoughts on “Dekatilah Tuhanmu dan Bermunajatlah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Bagikan
Menu
Pers Ibrahimy