Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Cinta Dalam Do’a, Romantisnya Sayyidina Ali Dengan Sayyidatina Fatimah
Sebuah hikayat tentang cinta Sayyidina Ali dengan Sayyidatina Fatimah
Oleh :
Gusmik Adnan*

    Fatimah Az-Zahra adalah salah seorang putri Rasulullah SAW yang sangat beliau cintai. Sedangkan Sayyidina Ali merupakan sahabat sekaligus sepupu yang sangat beliau cintai, dan Sayyidina Ali mulai jatuh cinta kepada Fatimah sejak saat Ali sedang membalut luka Rasulullah setelah berperang.

    Sejak kejadian itu, Ali bertekad akan melamar Fatimah. Namun Ali tak pernah mengumbar perasaannya. Ali hanya menitipkan doa atas rasa cintanya. meskipun Ali adalah salah seorang sahabat Rasul yang begitu mulia, namun Ali masih merasa malu untuk melamar. Karena ia juga belum memiliki mahar untuk melamar Fatimah.ketika sedang berusaha mengumpulkan modal untuk melamar Fatimah, saat Siti Fatimah berusia 18 tahun tiba-tiba tersiar kabar bahwa sahabat Rasul yang lain ingin melamar Fatimah. Ia adalah Abu Bakar As-Shidiq. Namun, lamaran Abu Bakar ditolak oleh Fatimah. Dan betapa gembiranya Ali mendengar kabar tersebut.

    Tak lama kemudian, sahabat Rasul yang lain juga ingin kembali melamar Fatimah. Ia adalah Umar bin Khattab. Mendengar berita tersebut, Ali mulai merasa tak memiliki kesempatan. Namun, sekali lagi. Lamaran Umar bin Khattab juga ditolak. Ali yang mendengar hal tersebut kembali gembira. Namun di sisi lain, ia juga mulai merasa ragu. Jika Abu Bakar dan Umar yang begitu teguh keimanannya saja ditolak, apalagi ia yang merasa masih belum ada apa-apanya.

    Sejak saat itu Ali, kembali mengurungkan niatnya. Ia pun bercerita kepada Abu Bakar. “Wahai Abu Bakar, Anda telah membuat hatiku goyah. Padahal sebelumnya sangat tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah SWT, aku memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku adalah karena aku tidak mempunyai apa-apa.” Mendengar hal tersebut, Abu Bakar pun berkata, “Wahai Ali, janganlah engkau berkata seperti itu. Bagi Allah SWT dan Rasul-Nya, dunia dan seisinya hanyalah ibarat debu-debu bertaburan belaka.”

Ali Datang Melamar Fatimah

    Mendengar jawaban dari Abu Bakar, Ali seakan tersadar. Ia merasa mendapatkan semangat baru. Ali pun memberanikan diri untuk datang menemui Rasulullah. Sesampainya dirumah Rasulullah, Ali ditanya perihal kedatangannya. Namun Ali tak berani menjawab. Rasul pun kembali mempertegas pertanyaanya, “ Apakah kedatanganmu untuk melamar Fatimah ?” Ali kemudian menjawab “ Iya Ya Rasullah.” Beliau lantas mengatakan, " Apakah engkau memiliki suatu bekal mas kawin ?." Dengan penuh keberenaian dan ketulusan Ali pun menjawab, " Demi Allah, engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku Ya Rasulullah. Tak ada sesuatu tentang diriku yang tak engkau ketahui. Aku tidak memiliki apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta."

    Mendengar jawaban Ali, Rasulullah pun tersenyum lantas mengatakan, " Tentang pedangmu, engkau tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu, engkau tetap memerlukannya untuk mengambil air bagi keluargamu juga bagi dirimu sendiri. Engkau tentunya memerlukannya untuk melakukan perjalanan jauh. Oleh karena itu, aku hendak menikahkanmu dengan mas kawin baju besi milikmu. Aku bahagia menerima barang itu darimu Ali. Engkau wajib bergembira sebab Allah lah sebenarnya yang Maha Tahu lebih dahulu. Allah lah yang telah menikahkanmu di langit lebih dahulu sebelum aku menikahkanmu di bumi." (HR. Ummu Salamah)

    Pada malam mempelai Sayyidatina Fatimah dipinang oleh Sayyidina Ali, Rasulullah bersabda pada Ali “Kamu jangan bicara sebelum kamu bertemu denganku nanti”. Kemudian Ummu Aiman muncul menggandeng tangan Sayyidatina Fatimah dan Fatimah duduk di samping rumah sedangkan Ali duduk di tempat lain, selanjutnya Rasulullah datang dan bersabda kepada Fatimah “Ambilkanlah aku air”. Kemudian Fatimah berdiri sambil menutupi wajahnya karena malu . ia menghampiri Rasulullah dengan membawa gelas besar berisi air, setelah menerima air tersebut rasulullah bersbda “Majulah”. Sayyidatina Fatimah pun maju kemudian Baginda Rasul juga meminta sayyidina Ali untuk maju, setelah Ali duduk di samping Fatimah kemudian Rasulullah menyemprotkan Parfum ke atas kepala Fatimah dan kepala Ali sehingga dari tubuh keduanya keluar aroma semerbak harum, Rasulullah pun menengadah tangan seraya berdo’a “Ya Allah sesungguhnya aku mohon kepada engkau, lindungilah ia dan anak cucu mereka dari godaan setan yang terkutuk, Ya Allah berkahilah mereka berdua dan berkahilah untuk mereka kebersamaan yang mesra”

    Setelah membaca surah Al-Falaq dan An-Nar Rasulullah bersabda kepada Ali “Dengan Menyebut Nama Allah Terimalah Istrimu”. Sayyidatina Fatimah pun tak kuasa menahan bendungan air mata yang penuuh keharuan. Akhirnya cinta dalam doa kepada sayyidina Ali yang selalu ia senandungkan menjadi cinta halal Lillahita’ala.   

    Sayyidina Ali dan Siti Fatimah sudah saling mencintai. Namun tak ada satu pun dari mereka yang mengumbar tentang perasaaanya. Mereka sama-sama saling mencintai dalam doa. Bagi Ali, butuh usaha bertahun-tahun untuk memantaskan diri. Agar ia pantas untuk Fatimah. Beberapa halangan juga sempat Ali lalui. Namun, Ali tak pernah menyerah untuk dapat melamar Fatimah. Begitupun Fatimah, ia mencintai Ali juga dalam doa. Bersama memantaskan diri. Sehingga kisah cinta mereka begitu mulia disisi Allah SWT.

    Semoga banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah cinta Ali dan Fatimah ini. Dan tentunya dapat menjadi inspirasi untuk agar terus memantaskan diri, bukan hanya mencari yang pantas tapi pantakanlah dirimu.

*Pembaca Menulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan
Menu
Pers Ibrahimy