Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Berpikir Sambil Berdzikir
Berpikir tidak akan sampai, kecuali bersamaan dengan lisan yang berdzikir, dan hati memahami arti dari maknanya.
(5) Aji Raihan Zandani
Oleh :
Raihan’D*

Berpikir merupakan bentuk bagaimana kita mengungkapkan gagasan yang pernah kita temui atau sesuatu yang pernah diteliti sebelumnya. Sebagaimana manusia yang dikatakan sebagai makhluk yang mulia dan dianugrahi kecerdasan untuk berpikir tentang sesuatu yang pernah terjadi dikehidupan sehari-hari.

Berpikir disini adalah berpikir yang bersifat positif tentang kebaikan dan kebenaran. Berpikir tentang kebaikan disini adalah berpikir tentang ciptaan Allah, seperti matahari yang bersinar cerah, ataukah matahari yang berada disebelah timur di pagi hari, berada diatas saat di siang hari dan berada di sebelah barat ketika sore hari. Bukankah yang berputar di alam semesta ini adalah semua planet dan bintang-bintang. Begitu pula dengan bumi, yang di dalamnya penuh dengan oksigen. Andai kita berpikir bahwa, jikalau kita pergi keluar angkasa, dan kita membawa sekantong plastik oksigen dari bumi, maka oksigen tersebut akan menguap ketika sampai di sana. 

Yang harus kita pikirkan adalah mengapa udara yang berada dibumi tidak menguap sebagaimana peristiwa diatas, padahal di bumi tidak dilindungi oleh sesuatu apa pun. Subhanallah!, sungguh Besar ciptaan Allah Azza Wa Jalla. Sebagian ulama’ mengatakan, “Berpikir sejenak tentang kebaikan, lebih baik dari pada beribadah 60 tahun”, Artinya bahwa berpikir sejenak tentang kebaikan atau sesuatu dari ciptaan Allah. Pahalanya lebih baik dari pada beribadah 60 tahun lamanya. 

Hal sepele yang mungkin juga harus kita pikirkan adalah kentut. Kentut merupakan sesuatu yang sepele bagi setiap orang, bahkan kebanyakan dari mereka mengatakan adalah sesuatu yang menjijikkan, akan tetapi kentut juga menjadi sesuatu yang mahal bagi seorang pasien yang dirawat dirumah sakit. Maka kentut akan menjadi salah satu nikmat bagi orang yang sakit itu sendiri. Bahkan sebelum pulang dari rumah sakit, seorang pasien akan ditanya terlebih dahulu apakah sudah bisa berkentut. Jika jawabannya iya, maka si pasien bisa dibawa pulang. Akan tetapi jika tidak, maka pasien harus menunggu sampai ia bisa berkentut kembali.

Sebagaimana firman Allah Swt, “Maka Nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan” (Q.S Ar-Rahman). Ayat tersebut menjelaskan tentang segala nikmat Tuhan yang diberikan kepada makhluknya. Oleh karena itu, sebagai makhluk yang berakal, haruslah pandai-pandai bersyukur kepada Tuhan dengan cara banyak berdzikir kepada-Nya. Ulama’ Khalil Ar-Rasyid pernah mengatakan, “Berpikir tidak akan sampai, kecuali bersamaan dengan lisan yang berdzikir, dan hati memahami arti dari maknanya. Sehingga dzikir tersebut membekas di dalam hati”.

Dengan demikian, berpikir dibersamakan dengan berdzikir dan hadirnya hati. Akan senantiasa membuat bekas didalam hati, agar segala sesuatu yang kita pikirkan akan menjadi sebuah kebenaran dan menghilangkan keraguan. 

Dilansir dari pengajian kitab Nashoihul Ibad

Oleh K.H. Moh. Aso Samsuddin, M.Pd.I.

(*) Redaktur LPMI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan
Menu
Pers Ibrahimy