Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Selamat Datang di Website

Lembaga Pers Mahasiswa Ibrahimy

Universitas Ibrahimy
Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo

Follow and Call Us

Aku dan Hijrahku
Sebuah Cerpen yang megnisahkan kehidupan santri di pesantren
Oleh :
Nailatul Mufidah Sumadi*

Keindahan senja terasa begitu memanjakan mata, sehingga sore terasa lebih indah. Ketenangan selalu ku nanti, yang membuatku selalu bersyukur kepada sang khaliq.

Seperti biasanya, saat senja tiba aku bersama sahabatku selalu menikmati senja di sawah. Rumah kami berada di desa terpencil dan jauh dari perkotaan, bahkan sepi dari permukiman tetangga. Rumah yang kami tempati biasanya kami sebut dengan rumah penjara suci yaitu”Pesantren” ya, kami adalah santri di salah satu pesantren terpencil di kampung ini, Pesantren BAITUL QUR’AN.

“Zalif ayo.. pulang sudah sore nih…” pinta nayla padaku.

“Iya, uh.. sebentar yaaa…aku masih asik nih menikmati senja yang sangat indah ini…” jawabku

“Ah, kamu nih, lebay sekali ayo cepetan nanti dimarahin ummi hari ini ada setoran hafalan”ujar nayla

“Yang benar saja kamu,,? Ya Allah aku belum muraja’ah lagi nih” jawabku

“Yah.. mangkanya kita harus pulang” pinta kembali nayla

Aku dan nayla pun tergesah-gesah pulang menuju asrama Tahfidzul Qur’an. Sesampainya di asrama, kami mendapan hukuman karena terlambat hafalan, aku pun merasa bersalah pada nayla yang selalu kena marah dan hukuman karena aku yang selalu mengajaknya untuk melihat senja di sore hari.

“Nayla, maafkan aku ya.. setiap kali aku dihukum kamu pasti terhukum pula..”

“Gak usah minta maaf, lagian aku juga mau kan? Hahhaha…” jawab nayla dengan sumringah

Setelah satu jam, kita dihukum berdiri di samping pendopo dhalem ummi nyai. Akhirnya ustadzah mengizinkan kami untuk segera bersiap-siap untuk mengikuti kegiatan Asrama. Baru saja melangkah, ustadzah berkata

“Sebagai tambahannya hafalkan surah Maryam malam ini lasung setoran ke ummi” ujar ystadzah

Seketika wajah kami berubah menjadi lesuh dan seraya berkata “Baik ustadzah”

***

“Zalif kenapa sih.. kita harus ngeliat senja setiap sore? Kan aku bosan” Tanya nayla

Zalif pun dengan asik memandang senja dengan memuraja’ah hafalan Al-Qur’annya.

“Nay, aku selalu berharap dengan aku melihat senja di sore ini, aku bisa tenang melihat dan mendengar kabar keluargaku disana” jawabku

“Pasti orang tua kamu bangga, dengan pencapaian yang bisa menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’anmu dalam waktu 1 tahun” ujar nayla

“iyah… aku akan membuktikannya pada mereka, awalnya aku adalah salah satu santrri yang datang dari kota, yang dipasrahkan oleh orang tuaku kepada pihak pesantren dengan begitu saja karena mereka sudah tidak sanggup menasehatiku lagi. Tetapi mereka berjanji jika aku bisa berubah, ia akan mengunjungiku di pondok.

***

Sahabatku zalif, yang awalnya dimasukkan ke pesantren hanya karena keterpaksaan, sehingga membuat dia melamggar peraturan pesantren, dan akhirnya berhijrah dari sebuah keterpaksaan menjadi terbiasa dan membuahkan hasil.

“Hafidzah dari Jakarta, selanjutnya adalah ZALIFATUR RAHMAH dengan hafalan AL-QUR’AN MUMTAZ”

Sorak sorai para tamu undangan di aula Pesantren BAITUL QUR’AN.

Zalif tak menyangka setelah satu tahun lamanya ditinggalkan orang tuanya. Tetapi pada saat wisuda Hafidz Al-Qur’an, orang tua zalif pun hadir dengan penuh haru melihatsosok zalif saat ini.

“Dulu saya bukan santriwati, saya belum terbiasa dengan pakaian lebar, memakai niqob dan saya juga bukan orang yang selalu membaca Al-Qur’an dan menghafalkannya. Namun, semenjak itu hidayah datang menghampiri dan saya mulai berfikir jika suatu hidayah itu sangat mahal, mengapa?, Karena saya berfikir tidak semua orang bisa mendapatkan hidayah. Banyak sekali hidayah yang saya dapatkan, salah satunya adalah bahwa keterpaksaan saya dulu, sudah menjadi  keterbiasaan sampai saat ini,dan hijrah itu bisa membuat saya menjadi seorang penghafan Al-Qur’an” saatku menyampaikan sambutan di aula pesantren.


*Staf Redaksi LPMI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan
Menu
Pers Ibrahimy